Pages

Tuesday, August 3, 2010

Menjadi Orangtua (Bagian 2)





"Jangan jadi orangtua, tapi jadilah manusia yang menjadi orangtua" 
Dr. HAIM G. GINOTT

Untuk mendidik seorang anak agar menjadi seseorang manusia ‘sempurna’ maka orangtua perlu mempelajari cara-cara yang manusiawi. Kasih sayang saja tidak cukup. Pengertian saja tidak memadai. Orangtua yang baik perlu memiliki ketrampilan dalam bertindak. Ketrampilan ini akan membantu orangtua untuk menterjemahkan cita-cita mereka dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua harus diberdayakan agar memperoleh dan memakai ketrampilan mendidik anak untuk bisa mewujudkan visi, misi dan cita-cita  dalam keluarga.

Sunday, August 1, 2010

Menjadi Orangtua (Bagian 1)


                                                                                                             Rifol's fam, Puncak Pass, Juli 1990

If I had my child to raise all over again,
I'd build self-esteem first, and the house later.
I'd finger-paint more, and point the finger less.
I would do less correcting and more connecting.
I'd take my eyes off my watch, and watch with my eyes.
I'd take more hikes and fly more kites.
I'd stop playing serious, and seriously play.
I would run through more fields and gaze at more stars.
I'd do more hugging and less tugging.

~Diane Loomans, from "If I Had My Child To Raise Over Again"~

Friday, July 30, 2010

Hangout with family at Gramedia Matraman









Setelah kemaren sabtu my little girl Icha seharian dirumah karena saya mengikuti acara reuni dengan teman-teman smadabaya 84 di fx Sudirman Jakarta, hari ini icha merengek minta hangout sekeluarga ke mall yang sama. My hubby terlihat keberatan karena kita keluar rumah jam 3 sore, dimana biasanya sejak dari dulu ada komitmen kalau hari minggu (diluar libur sekolah/cuti kerja) sebelum magrib kita sudah harus berada dirumah .


Thursday, July 29, 2010

Mengatasi Anak Malas Belajar

Anak Malas belajar sudah menjadi salah satu keluhan umum para orang tua. Kasus yang biasa terjadi adalah anak lebih suka bermain dari pada belajar. Anak usia sekolah tentunya perlu untuk belajar, antara lain berupa mengulang kembali pelajaran yang sudah diberikan di sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah (pr) ataupun mempelajari hal-hal lain di luar pelajaran sekolah.

Malas

malas dijabarkan sebagai tidak mau berbuat sesuatu, segan, tak suka, tak bernafsu. Malas belajar berarti tidak mau, enggan, tak suka, tak bernafsu untuk belajar (Muhammad Ali, Kamus Bahasa Indonesia)

Jika anak-anak tidak suka belajar dan lebih suka bermain, itu berarti belajar dianggap sebagai kegiatan yang tidak menarik buat mereka, dan mungkin tanpa mereka sadari juga dianggap sebagai kegiatan yang tidak ada gunanya/untungnya karena bagi ana-anak tidak secara langsung dapat menikmati hasil belajar. Berbeda dengan kegiatan bermain, jelas-jelas kegiatan bermain menarik buat anak-anak, dan keuntungannya dapat mereka rasakan secara langsung (perasaan senang yang dialami ketika bermain adalah suatu keuntungan).

Sebab

1. Faktor intinsik (dalam diri anak sendiri)
a. Kurangnya waktu yang tersedia untuk bermain
b. Kelelahan dalam beraktivitas (misal terlalu banyak bermain/membantu orang tua)
c. Sedang sakit
d. Sedang sedih (bertengkar dengan teman sekolah, kehilangan barang kesayangan dll)
e. IQ/EQ anak

2. Faktor ekstrinsik
a. Sikap orang tua yang tidak memperhatikan anak dalam belajar atau sebaliknya (terlalu berlebihan memperhatikan)
Banyak orangtua yang menuntut anak belajar hanya demi angka (nilai) dan bukan atas dasar kesadaran dan tanggung jawab anak selaku pelajar. Memaksakan anak untuk les ini itu. dsb.

b. sedang punya masalah di rumah (misalnya suasana di rumah sedang "kacau" karena ada adik baru).

c. Bermasalah di sekolah (tidak suka/phobia sekolah, sehingga apapun yang berhubungan dengan sekolah jadi enggan untuk dikerjakan).
Termasuk dalam hal ini adalah guru dan teman sekolah.

d. Tidak mempunyai sarana yang menunjang blajar (misal tidak tersedianya ruang belajar khusus, meja belajar, buku penunjang , dan penerangan yang bagus.alat tulis, buku dll)

e. suasana rumah
misalnya rumah penuh dengan kegaduhan, keadaan rumah yang berantakan ataupun kondisi udara yang pengap. Selain itu tersedianya fasilitas permainan yang berlebihan di rumah juga dapat mengganggu minat belajar anak. Mulai dari radio tape yang menggunakan kaset, CD, VCD, atau komputer yang diprogram untuk sebuah permainan (games), seperti Game Boy, Game Watch maupun Play Stations.

Mengatasi Malas Belajar Anak

Mencari sebab musababnya anak menjadi malas adalah langkah pertama. Saran berikutnya antara lain sbb:

1. Menanamkan pengertian yang benar tentang seluk beluk belajar pada anak sejak dini.
Terangkan dengan bahasa yang dimengerti anak. menumbuhkan inisiatif belajar mandiri pada anak, menanamkan kesadaran serta tanggung jawab selaku pelajar pada anak merupakan hal lain yang bermanfaat jangka panjang.

2. Berikan contoh "belajar" pada anak.
Anak cenderung meniru perilaku orangtua. Ketika menyuruh dan mengawasi anak belajar, orangtua juga perlu untuk terlihat belajar (misalnya membaca buku-buku). Sesekali ayah-ibu perlu berdiskusi satu sama lain, mengenai topik-topik serius (suasana seperti anak sedang kerja kelompok dan diskusi dengan teman-teman, jadi anak melihat kalau orangtuanya juga belajar).

2. Berikan insentif jika anak belajar. Insentif yang dapat diberikan ke anak tidak selalu harus berupa materi, tapi bisa juga berupa penghargaan dan perhatian. Pujilah anak saat ia mau belajar tanpa mesti disuruh

3. Sering mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang diajarkan di sekolah pada anak (bukan dalam keadaan mengetes anak, tapi misalnya sembari mengisi tts atau ikut menjawab kuis ). Jika anak bisa menjawab, puji dia dengan menyebut kepintarannya sebagai hasil belajar. Kalau anak tidak bisa, tunjukkan rasa kecewa dan mengatakan "Yah Ade nggak bisa jawab, nggak bisa bantu Mama deh. Ade, di buku pelajarannya ada nggak sih jawabannya? Kita lihat yuk sama-sama". Dengan cara ini, anak sekaligus akan merasa dipercaya dan dihargai oleh orangtua, karena orangtua mau meminta bantuannya.

4. mengajarkan kepada anak pelajaran-pelajaran dengan metode tertentu yang sesuai dengan kemampuan anak.Misalnya active learning atau learning by doing, atau learning through playing, sehingga anak merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan.

5. Komunikasi
Hendaklah ortu membuka diri , berkomunikasi dengan anaknya guna memperoleh secara langsung informasi yang tepat mengenai dirinya.
Carilah situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Setelah itu ajaklah anak untuk mengungkapkan penyebab ia malas belajar. Pergunakan setiap suasana yang santai seperti saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya.

6. Menciptakan disiplin.
jadikan belajar sebagai rutinitas yang pasti.

7. Menegakkan kedisiplinan.
Setelah point 6, Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan bilamana anak mulai meninggalkan rutinitas yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). gunakanlah konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak.

8. Pilih waktu belajar terbaik untuk anak, ketika anak merasa segar. Mungkin sehabis mandi sore. Anak juga bisa diajak bersama-sama menentukan kapan waktu belajarnya.

9. Kenali pola kemampuan dan perkembangan anak kemudian susunlah suatu jadwal belajar yang sesuai.
dalam hal ini IQ, EQ, kemampuan konsentrasi ,daya serap dll.

10. Menciptakan suasana belajar yang baik dan nyaman
Setidaknya orangtua memenuhi kebutuhan sarana belajar, memberikan perhatian dengan cara mengarahkan dan mendampingi anak saat belajar. Sebagai selingan orangtua dapat pula memberikan permainan-permainan yang mendidik agar suasana belajar tidak tegang dan tetap menarik perhatian.

11. Menghibur dan memberikan solusi yang baik dan bijaksana pada anak.
Dalam hal ini jika anak sakit/sedih.

Beberapa hal yang tidak kalah pentingnya dalam menyikapi anak yang sedang dilanda malas belajat adalah

1. Orangtua harus menyadari sisi positif sang anak.
Galilah sisi positif anak agar anak menyadari dirinya sendiri untuk mengatasi masalahnya,.

Pernah nggak sih kamu menghadapi PR yang sangat sulit, tapi akhirnya bisa mengatasinya?

Ajak anak untuk mengingat ingat, dan kemudian bercerita. Begitu anak mengingat momen itu, gali lebih jauh. PR apa itu, apa saja kesulitannya, bagaimana dia mengatasinya, dan seterusnya.

Anak akhirnya tersadar bahwa dia bisa mengatasi kesulitan-kesulitannya itu, karena dia memiliki sisi positif tertentu. Sisi itu bergantung dari sang anak. Bisa saja karena kesabaran, keuletan, usaha dia untuk bertanya kepada teman, dan sebagainya.

Perkuat keyakinan anak, atau sadarkan anak. Misalnya dengan mengatakan: Nah, kamu pernah mengalami hal yang seperti ini, dan berarti kamu bisa mengatasinya

2. Gunakan imajinasi anak

Orangtua membantu anak membayangkan, apa yang dia inginkan untuk masa depannya. Baik dalam waktu panjang atau pendek.

Pancing anak untuk membayangkan sesuatu yang menyenangkan jika dia berhasil mengerjakan PR-nya dengan baik., kira-kira apa ya komentar dari guru? Minta dia menggambarkan imajinasinya dengan jelas, apa jadinya jika PR-nya bagus. Mulai dari bagaimana senyum sang guru, komentarnya, dan sebagainya.

3. Mengarahkan anak untu berteman dan "hidup" dalam lingkungan yang baik dan mendukung.

4. Tidak terfokus bahwa belajar hanya berkutat pada buku non fiksi. Gunakan segala hal yang baik yang mampu membuat anak "belajar"tentang segala sesuatu, termasuk permainannya karena dunia bermain adalah dunia anak-anak Pilih dan arahkan permainannya sehingga anak bisa berkembang.

5. Memberikan bekal nilai-nilai religius pada anak

Inilah faktor yang sangat penting ,disamping doa orang tua akan anak-anaknya. Apalagi di jaman yang berkembang dengan pesatnya. Tak mungkin orang tua memberikan pengawasan secara kasat mata terus menerus.Juga kemajuan teknologi. Satu hal yang menjadi jawabnya adalah: beragama dengan baik dan benar.


Semoga artikel ini dapat membantu orang tua dalam mengatasi anknya yang malas belajar.
Walloohu A`lam

sumber
http://www.e-psikologi.com/anak/060502.htm
http://www.keluargabahagia.com/artikel.php?act=detail&id=13
keajaibankecil.wordpress.com

KARAKTERISTIK ANAK KESULITAN BELAJAR

Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan (fisik, mental-intelektual, sosial, emosional) dalam proses perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Dengan demikian, meskipun seorang anak mengalami kelainan tertentu, tetapi kelainan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus, anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus. Ada bermacam-macam jenis anak dengan kebutuhan khusus, salah satunya yaitu kesulitan belajar atau Learning Disabilities (LD). Anak berkesulitan belajar (LD) adalah individu yang mengalami gangguan dalam satu atau lebih proses psikologis dasar, disfungsi sistem syarat pusat, atau gangguan neurologis yang dimanifestasikan dalam kegagalan-kegagalan yang nyata dalam pemahaman dan penggunaan pendengaran, berbicara, membaca, mengeja, berpikir, menulis, berhitung, atau keterampilan sosial. Kesulitan tersebut bukan bersumber pada sebab-sebab keterbelakangan mental, gangguan emosi, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi, tetapi dapat muncul secara bersamaanKelompok anak LD dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang menyertainya. Gangguan-gangguan tersebut adalah gangguan latar-figur, visual-motor, visual-perseptual, pendengaran, intersensori, berpikir konseptual dan abstrak, bahasa, sosio-emosional, dan konsep diri. Gangguan aktivitas motorik, persepsi, perhatian, emosionalitas, simbolisasi, dan ingatan. Sedangkan ditinjau dari aspek akademik, kebanyakan anak LD juga mengalami kegagalan yang nyata dalam penguasaan keterampilan dasar belajar, seperti dalam membaca, menulis dan atau berhitung. Kemampuan intelektual dapat berpengaruh luas terhadap berbagai kemampuan manusia, terutama dalam prilaku belajarnya. Sementara itu dua masalah utama yang dihadapi anak LD adalah masalah akademik dan masalah pribadi-sosial. Berdasarkan ini diduga kuat bahwa paduan antara keunggulan intelektual yang dimiliki dan kesulitan belajar yang dihadapi dapat melahirkan karaktersitik sendiri yang berbeda dengan anak-anak LD pada umumnya. Secara potensial, anak LD yang memiliki inteligensi di atas rata-rata adalah sumber daya manusia unggul bagi pembangunan bangsa dan negara. Karena itu mereka mendapat perhatian yang lebih serius dalam upaya mengatasinya. Namun demikian, dalam praktek pendidikan di lapangan, khususnya di sekolah dasar, sangat mungkin terjadi guru mengalami berbagai kesulitan dalam membantu siswanya yang termasuk LD.
Ditemukan bahwa terdapat satu atau lebih gangguan proses psikologis dasar dan motorik yang melatarbelakangi kesulitan belajar pada anak LD. Gangguan dalam proses psikologis dasar terutama gangguan persepsi dan konsentrasi, sedangkan gangguan dalam motorik adalah gangguan keseimbangan dan motorik halus, di samping gangguan persepsi tubuh dan lateralisasi. Gangguan-ganguan tersebut secara nyata dapat muncul sendiri-sendiri, bersamaan, atau sebagai rangkaian sebab akibat.
Munculnya gangguan-gangguan tersebut secara langsung menjadikan anak tidak mampu menguasai keterampilan-keterampilan prasyarat belajar akademik (pre-akademic skills), sehingga menghambat penguasaan keterampilan dasar belajar akademiknya (baca, tulis, dan atau hitung) secara baik. Dalam belajar akademik, membaca misalnya, di samping dituntut penguasaan kemampuan fisik (gerak mata dan ketajaman penglihatan) juga dituntut penguasaan aktivitas mental yang baik, yaitu kemampuan dalam mengidentifikasi dan menginterpretasikan diskriminasi bentuk huruf dan urutan.
Munculnya gangguan persepsi menjadikan anak gagal dalam mengidentifikasi, membedakan, dan menginterpretasikan huruf atau kata yang dilihatnya. Munculnya gangguan konsentrasi, menjadikan ketidakmampuan anak dalam memusatkan perhatian (perhatian selektif) terhadap stimuli yang disajikan, sehingga menjadi informasi untuk diproses lebih lanjut. Perhatian selektif merupakan keterampilan dasar yang diperlukan dalam membaca, sebelum keterampilan scaning urutan, diskriminasi, pengkodean, dan pemahaman. Sedangkan munculnya gangguan keseimbangan menjadikan keterbatasan dalam menjaga keseimbangan tubuh sehingga cenderung tidak bisa diam. Kondisi ini secara langsung atau tidak langsung dapat berakibat pada gangguan ruang pandang. Gangguan ruang pandang, secara langsung berpengaruh terhadap keakuratan dalam mengidentifikasi, membedakan, dan menginterpretasikan obyek yang dilihat atau dibaca, dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap kemampuan persepsi, konsentrasi, maupun ingatannya.
Secara khusus anak LD mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a. Mudah menangkap pelajaran, petunjuk, atau instruksi yang diberikan, tetapi cenderung malas melakukan aktivitas belajar, mudah bosan, meremehkan, bahkan penolakan.
b. Memiliki pengetahuan yang luas, tetapi cenderung kurang mampu melakukan tugas-tugas akademik secara akurat dan memuaskan.
c. Dikenal sebagai siswa yang cukup pandai, tetapi mengalami kesulitan dalam satu atau lebih bidang akademik dan tidak mampu memanfaatkan kepandaiannya tersebut untuk mencapai prestasi akademik tinggi.
d. Memiliki kesenjangan yang cukup signifikan antara skor tes kemampuan verbal dan performennya.
e. Memiliki daya tangkap yang bagus, tetapi cenderung hiperaktif dan kurang mampu menyeuaikan diri.
f. Memiliki daya imaginatif yang tinggi, tetapi cenderung emosional.
g. Mampu mengambil keputusan dengan cepat, tetapi cenderung kurang disertai pertimbangan yang matang, terburu-buru, semaunya.
h. Lebih cepat dalam belajar dan mengerjakan suatu persoalan, tetapi cenderung malas dan memiliki toleransi yang rendah terhadap frustrasi.
i. Lebih percaya diri, tetapi cenderung meremehkan dan menolak tugas-tugas yang diberikan dengan berbagai alasan.
Dalam kaitannya dengan sistem pendidikan di sekolah dasar, guru merupakan ujung tombak dalam membantu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi para siswanya, termasuk permasalahan yang dihadapi anak LD yang memiliki kemampuan intelegensi di atas rata-rata. Berdasarkan permasalahan tersebut tampaknya diperlukan suatu model alternatif bimbingan yang dipandang efektif dan efisien dalam membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi mereka, baik masalah akademik maupun non akademis. Kekhasan karakteristik anak LD yang memiliki inteligensi di atas rata-rata, mengisyaratkan bahwa dalam pelaksanaan bimbingan perlu dilakukan melalui studi yang mendalam secara individual. Untuk itu perlu dilakukan assesmen secara obyektif, akurat, mendalam, dan komprehensif sehingga diperoleh pemahaman yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya terhadap berbagai permasalahan, keterbatasan, hambatan, kekurangan, ketidakmampuan, maupun keunggulan-keunggulan tertentu yang dimilikinya, untuk dijadikan sebagai dasar dalam merumuskan program bimbingan yang tepat sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya.
Pemahaman terhadap keunggulan anak, di samping penting untuk dimanfaatkan dalam upaya mengatasi masalahnya, juga dalam rangka mengembangkan keunggulannya tersebut, sehingga mereka mampu berprestasi tinggi sesuai potensi yang dimilikinya. Secara teoritis, pelaksanaan bimbingan terhadap anak LD, termasuk yang memiliki inteligensi di atas rata-rata, dimulai dengan pemahaman karakteristik anak, familiar dengan instrumen-instrumen assesmen yang digunakan untuk menentukan jenis dan tingkat kesulitan belajar anak dalam rangka pemahaman dan mengkomunikasikan pada tim ahli tentang masalah belajar anak, melakukan koordinasi dengan tim ahli (guru kelas, psikolog sekolah, tenaga medis, dan ahli terapi lain) yang menangani anak, melakukan konseling dan konsultasi dengan orang tua dalam rangka meningkatkan pemahaman dan memfasilitasi perkembangan anak, melaksanakan konseling pada anak sesuai dengan keunikan masalah yang dihadapinya, dan melakukan konseling dan konsultasi dengan personel sekolah dalam rangka peningkatan pemahaman mereka terhadap masalah belajar, sosial, dan tingkah laku anak . Penanganan anak LD di sekolah hanya akan efektif bila dibarengi dengan penangan khusus di klinik-klinik. Khusus bagi mereka yang memiliki inteligensi di atas rata-rata, perlu dirumuskan suatu program khusus sesuai dengan potensinya. Sebab, dalam membantu mengatasi masalahnya tidak cukup dengan pendekatan yang digunakan untuk mereka yang memiliki inteligensi rata-rata atau di bawah rata-rata. Perlunya penyesuaian antara teknik konseling yang digunakan dengan gaya belajar anak, serta perlunya keterlibatan secara intensif dari orang tua dalam keseluruhan program bimbingan.

B. Kajian Teori
1. Teori Motivasi
Guru harus senantiasa memberikan motivasi kepada sisa agar tetap memiliki gairah dan semangat yang tinggi dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Dan memberikan reward kepada siswa yang berbakat.

2. Teori Belajar dan Tingkah Laku
Dalam kegiatan belajar-mengajar, guru perlu mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu mengoptimalkan interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, guru dengan siswa dan lingkungan, serta interaksi banyak arah.

3. Teori Kognitif
Sesuatu yang dipelajari siswa tergantung pada apa yang diketahui dari masing-masing siswa dan bagaimana informasi baru diproses.

DAFTAR PUSTAKA
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga.
Santrock, John W. 2002. Life-Span Development Jilid I. Jakarta : Erlangga.
Santrock, John W. 2002. Life-Span Development Jilid II. Jakarta : Erlangga.
Zaenal A. dan Sunardi. 1996. Pendidikan Anak Berbakat Penyandang Ketunaan. Jakarta: Dirjen Dikti PPTA